BAB 1
PROTEIN
- Pengertian Protein
Protein adalah polimer alami yang
terbuat dari asam amino. Suatu polipeptida yang memiliki kira-kira 100 sampai
1000 atau lebih residu asam amino. Ada dua puluh asam amino yang menyusun semua
protein yang dijumpai dalam tubuh manusia ; semuanya kecuali gilisin adalah
kiral. Urutan dan jenis-jenis asam amino yang menyusunnya sangat spesifik.
Suatu protein yang hanya tersusun atas
asam amino dan tidak mengandung gugus lain disebut protein sederhana. Namun, banyak protein yang mengandung bahan lain
selain asam amino seperti derivate vitamin, lipid atau karbohidrat. Protein
disebut protein konjugasi. Bagian
yang bukan asam amino dari jenis protein ini disebut gugus prostetik.
Protein dalam tubuh manusia diperoleh
dari bahan makanan, baik yang berasal dari hewan maupun yang berasal dari
tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan protein yang berasal dari tumbuhan
disebut protein nabati. Sumber
protein dari dari beberapa bahan makanan adalah daging, telur, susu, ikan,
beras, kacang, dan buah-buahan. Protein dalam makanan yang dikonsumsi manusia
akan dipecah menjadi asam-asam amino dalam proses pencernaan dengan dibantu
oleh enzim.
Di dalam tubuh, protein mempunyai
peranan yang sangat penting. Fungsi utamanya sebagai zat pembangun atau
pembentuk struktur sel, misalnya untuk pembentukan kulit, otot, rambut, membran
sel, jantung, hati, ginjal, dan beberapa organ penting lainnya. Kemudian, terdapat
pula protein yang mempunyai sifat khusus, yaitu protein yang aktif. Beberapa
diantaranya ialah enzim yang berperan sebagai biokatalisator, hemoglobin
sebagai pengangkut oksigen, hormon sebagai pengatur metabolism tubuh, dan
antibody untuk mempertahankan tubuh dari serangan penyakit. Protein dapat pula
digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi
oleh karbohidrat dan lemak
Secara kimiawi, protein merupakan
senyawa polimer yang tersusun atas satuan asam-asam amino sebagai monomer-nya.
Asam-asam amino terikat satu sama lainnya melalui ikatan peptida, yaitu ikatan antara gugus karboksil (-COOH) asam
amino yang satu dengan gugus amino (-NH2) dari asam amino yang lain
dengan melepaskan satu molekul air. Peptida yang terbentuk atas dua asam amino
disebut dipeptida. Sebaliknya,
peptide yang terdiri atas tiga, empat, atau lebih asam amino masing-masing
disebut tripeptida, tetrapeptida, dan seterusnya.
Protein menjalankan banyak fungsi ,
mulai dari katalisis, pengangkutan dan penyimpanan zat-zat vital, pergerakan
yang terkoordinasi, dan perlindungan terhadap penyakit. Protein merupakan
komponen utama dalam semua sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Protein
adalah senyawa organic kompleks yang terdiri atas unsur-unsur Karbon (50-55%),
Hidrogen (±7%), Oksigen (±13%), dan Nitrogen (±16%). Banyak pula protein yang
mengandung Belerang (S) dan Fosfor (P) dalam jumlah sedikit (1-2%). Ada
beberapa protein lainnya mengandung unsur logam seperti tembaga dan besi.
2.Klasifikasi
Protein
Berdasarkan struktur molekulnya, protein
dapat dibagi menjadi dua golongan utama,
yaitu :
1) Protein globuler, yaitu protein
berbentuk bulat atau elips dengan rantai polipeptida yang berlipat. Umumnya,
protein globuler larut dalam air, asam, basa, maupun etanol. Contoh : albumin, globulin, protamin,
semua enzim dan antibodi.
2)
Protein Fiber, yaitu protein
berbentuk serat atau serabut dengan rantai polipeptida memanjang pada satu sumbu.
Hampir semua protein fiber memberikan peran struktural atau pelindung. Protein
fiber tidak larut dalam air, asam, basa, maupun etanol. Contoh : keratin pada rambut, kolagen pada tulang rawan, dan fibroin pada sutera.
Berdasarkan sifatnya
protein dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1. Kelarutan : Albumin, globulin, fibrinogen
2. Bentuk : Globuler, fibrosa
3. Sifatnya : Dengan elektroforesis
4. Sedimentasi : VLDL, IDL, LDL, HDL.
5. Imunologis : Ig A, D, E, G, M.
6. Struktur tiga dimensi : Primer, sekunder, tertier, kuarterner
7. Fungsi biologis : Struktural, enzim
1. Kelarutan : Albumin, globulin, fibrinogen
2. Bentuk : Globuler, fibrosa
3. Sifatnya : Dengan elektroforesis
4. Sedimentasi : VLDL, IDL, LDL, HDL.
5. Imunologis : Ig A, D, E, G, M.
6. Struktur tiga dimensi : Primer, sekunder, tertier, kuarterner
7. Fungsi biologis : Struktural, enzim
3. Sifat-sifat Protein
Berat molekul protein sangat besar,
ribuan sampai jutaan, sehingga merupakan suatu makromolekul. Seperti senyawa
polimer lain (misalnya : pati), protein dapat pula dihidrolisis oleh asam, basa
atau enzim tertentu dan menghasilkan campuran asam-asam amino.
Sifat fisikokimia protein berbeda satu
sama lain, tergantung pada komposisi dan jenis asam amino penyusunnya. Sebagian
besar protein bila dilarutkan dalam air akan membentuk disperse koloidal dan
tidak dapat berdifusi bila dilewatkan melalui membrane semipermaebel. Beberapa
protein mudah larut dalam air, tetapi ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein
tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti eter, kloroform, atau benzena.
Pada umumnya, protein sangat peka
terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia, sehingga mudah mengalami
perubahan bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur molekul protein
disebut denaturasi. Hal-hal yang
dapat menyebabkan terjadinya denaturasi adalah panas pH, tekanan, aliran
listrik, dan adanya bahan kimia seperti alcohol dan sabun. Proses denaturasi
kadang berlangsung secara versibel
tetapi ada pula yang irreversible
tergantung pada penyebabnya. Protein yang mengalami denaturasi akan menurunkan
aktivitas biologinya dan berkurang kelarutannya, sehingga mudah mengendap.
Molekul protein mempunyai gugus amino
(-NH2) dan gugus karboksilat (-COOH) pada ujujng-ujung rantainya.
Hal ini menyebabkan protein mempunyai banyak muatan ( polielektrolit) dan
bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam dan basa. Dengan larutan
asam atau pH pindah gugus amino pada protein akan bereaksi dengan ion H+,
sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya, dalam lartan basa gugus
karboksilat bereaksi dengan ion OH-, sehingga protein bermuatan
negative. Adanya muatan pada molekul protein menyebabkan protein bergerak di
bawah pengaruh medan listrik.
Setiap jenis protein dalam larutan
mempunyai pH tertentu yang disebut titik Isoelektrik (TI). Pada pH Isoelektrik
(PI), molekul protein mempunyai muatan positif dan negative yang sama,
sehingga, saling menetralkan atau bermuatan nol. Akibatnya protein tidak
bergerak di bawah pengaruh arus listrik. Pada titik isoelektrik, protein akan
mengalami pengendapan (koagulasi) paling cepat dan prinsip dapat digunakan
untuk pemisahan atau pemurnian suatu
protein.
4.
Struktur
Protein
Strukur protein biasanya dibagi menjadi
empat tingkat organisasi. Struktur
primer adalah sebutan untuk urutan asam amino khas dari rantai polipeptida.
Struktur sekunder meliputi
bagian-bagian dari rantai polipeptida yang distabilkan oleh suatu pola teratur dari
ikatan-ikatan hidrogen antara gugus CO dan gugus NH dari tulang punggung. Struktur tersier berlaku pada struktur
tiga dimensi yang distabilkan oleh gaya dispersi, ikatan hidrogen, dan gaya
antar molekul lainnya. Molekul protein dapat terdiri dari lebih dari satu
rantai polipeptida. Susunan keseluruhan dari rantai-rantai polipeptida
dinamakan struktur kuaterner.
BAB II
LEMAK
1. Pengertian Lemak
Lemak
adalah sekelompok ikatan organik yang terdiri atas unsu-runsur karbon (C),
Hidrogen(H), Oksigen(O) yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat pelarut
tertentu (zat pelarut lemak).
Di dalam tubuh fungsi utama lemak adalah sebagai cadangan energi dalam bentuk
jaringan lunak yang ditimbun di tempat-tempat tertentu. Jaringan lemak juga
berfungsi pada organ-organ tertentu seperti biji mata dan ginjal. Jaringan di
bawah kulit melindungi tubuh dari hawa dingin sedangkan pada wanita memberikan
contours khas feminine seperti jaringan lemak didaerah gluteal dan di daerah
bahu dan dada. Kebutuhan tubuh akan lemak ditinjau dari sudut fungsinya :
1.Lemak sebagai sumber utama
energi.
. 2.Lemak sebagai sumber
polyunsaturated fatty acid (PUFA) / kesehatan kulit. 3.Lemak
sebagai pelarut vitamin-vitamin A, D, E dan K.
Lemak cenderung meningkatkan kadar
kolesterol darah terutama lemak hewani yang mengandung asam lemak jenuh rantai
panjang. Kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan prevalensi penyakit
hypertensi. Kelebihan konsumsi energi dalam bentuk karbohidrat memberikan
sintesa acetyl-CoA yang berlebih dan dapat meningkatkan kolesterol andogen yang
mengalami obesitas (kegemukan).
Lemak merupakan bagian
terbesar dan terpenting kelompok lipid, yaitu sebagai komponen makanan utama
bagi organisme hidup. Lemak penting bagi manusia karena adanya asam-asam lemak
esensial yang terkandung di dalamnya. Fungsinya dapat melarutkan vitamin A, D,
E dan K yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kemudian, lemak merupakan
sumber energi yang lebih efisien dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu
asam lemak dapat menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya
menghasilkan 4 kkal setiap gram.
Secara kimiawi, lemak
dan minyak adalah trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dan asam
lemak rantai panjang. Senyawa terbentuk dari hasil kondensasi satu molekul
gliserol dengan tiga molekul asam lemak.
Asam lemak dapat terbentuk dari senyawa-senyawa yang
mengandung karbon seperti asam asetat, asectaldehid, dan etanol yang merupakan
hasil respirasi tanaman. Asam lemak dalam tanaman disentesis dalam keadaan anaerob
dengan bantuan bakteri tertentu seperti clostridium
kluyveri.
2.
Klasifikasi Lemak
Lemak dapat diklasifikasikan dengan
berbagai cara :
a. Menurut Struktur Kimianya :
1)
Lemak Netral (triglyceride)
2)
Phospholipida
3)
Lecithine
4)
Sphyngomyelineb.
b. Menurut Sumbernya (Bahan Makanannya) :
1)
Lemak Hewani
2)
Lemak Nabati.
c.
Menurut Konsistennya :
1)
Lemak Padat (Lemak atau Gaji)
2)
Lemak Cair (Minyak).
d.
Menurut Wujudnya :
1)
Lemak tak terlihat (invisible fat) 2) Lemak terlihat (visible fat)
Asam-asam lemak yang ditemukan di alam umumnya
merupakan asam-asam monokarboksilat dengan rantai yang tidak bercabang dan
mempunyai jumlah atom karbon genap. Asam lemak di alam dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu :
1. Asam lemak jenuh
: asam lemak yang tidak mempunyai ikatan rangkap. Contoh : asam palmitat, asam stearat, dan asam kaprat.
Sumber
: sebagian besar pada lemak hewani
2. Asam lemak tidak jenuh :
yaitu asam lemak yang mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap. Contoh : asam
oleat, asam linoleat, dan asam linolenat.
Sumber
: minyak nabati pada biji-bijian atau kacang-kacangan.
3.
Sifat Lemak
Sifat
fisikokimia lemak dan minyak berbeda satu sama lain, tergantung pada sumbernya.
Secara umum, bentuk trigliserida lemak dan minyak sama, tatapi wujudnya
berbeda. Dalam pengertian sehari-hari, disebut lemak jika berbentuk padat pada
suhu kamar dan disebur minyak jika berbentuk cair pada suhu kamar.
Trigliserida
dapat berbentuk padat atau cair berhubungan dengan aam lemak penyusunnya.
Minyak nabati sebagian besar berbentuk cair karena mengandung sejumlah asam
lemaktidak jenuh seperti asam oleat (C17H33COOH), asam
linoleat (C17H31COOH), dan asam linolenat (C17H29COOH).
Asam-asam lemak termasuk asam lemak esensial yang dapat mencegah timbulnya
gejala arteriosclerosis karena penyempitan
pembuluh darah akibat penumpukan kolestrol. Sebaliknya, asam lemak hewani
umumnya pada suhu kamar berbentuk padat karena banyak mengandung asam lemak
jenuh seperti asam stearat (C17H35COOH) dan asam palmirat
(C15H31COOH). Asam lemak jenuh mempunyai titik lebur
lebih tinggi daripada asam lemak tidak jenuh.
Lemak
dan minyak dapat mengalami ketengikan (rancidity),
karena dapat terhidrolisis dan teroksidasi bila dibiarkan terlalu lama kontak
dengan udara. Pada proses hidrolisis, lemak atau minyak akan diubah menjadi
asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis dapat menyebabkan kerusakan
lemak atau minyak karena terdapat sejumlah air di dalamnya, sehingga
menimbulkan bau tengik. Reaksi demikian dikatalisis oleh asam, basa, atau enzim
tertentu seperti enzim lipase.
Lemak yang
teroksidasi akan membentuk peroksida dan hidroperoksidayang dapat terurai
menjadi aldehida, keton, dan asam-asam lemak bebas. Hasil oksidasi tidak hanya
mengakibatkan rasa dan bau yang tidak enak, tetapi dapat pula menurunkan nilai
gizi karena kerusakan vitamin dan asam-asam lemak esensial dalam lemak. Reaksi
oksidasi dipercepat dengan adanya cahaya, pemanasan, atau katalis logam seperti
Cu, Fe, Co dan Mn. Lemak yang sangat tengik mempunyai keasaman yang sangat
rendah. Proses ketengikan dapat dihambat salah satunya dengan penambahan zat
antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, polifenol, dan hidroquinon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar