Jumat, 01 Januari 2016

DIANNUR WAHYU MARINI

DIANNUR WAHYU MARINI
SAAT BERADA DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN (BBIB)SINGOSARI , MALANG JAWA TIMUR 
SAAT BERADA DI PANTAI SANUR , BALI
SAAT BERADA DI KAPAL PERJALANAN MENUJU PELABUHAN NGURAH RAI ,BALI
SIAP SIAP DI HOTEL , MAU PERGI JALAN-JALAN CERITANYA HAHAHA
FOTO SEBENTAR DI DEPAN HOTEL WONDERLAND , BATU
BERKUNJUNG KE FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
KENANGAN SMAN 1 TANJUNG , JUARA 2 OLIMPIADE KIMIA TINGKAT KABUPATEN ,HAHA LUMAYANLAH YA :)



INI DULU YA :) SEKIAN AND THKS FOR WATCHING








COVER BUKU TERNAK PERAH

CONTOH COVER BUKU TENTANG TERNAK PERAH








Dan masi banyak lagi ya .......


PENENTUAN KADAR NH3 DALAM RUMEN BIOKIMIA NUTRISI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Dalam dunia peternakan ternak ruminansia memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Ternak ruminansia memiliki keistimewaan yaitu mengubah rumput menjadi bahan makan yang bernilai gizi tinggi berupa susu dan daging. Kulitnya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sandang. Selain berperan sebagai penyedia daging dan susu ternak ruminansia jugamenyediakan energi dalam bentuk yang dapat diperbaharui. Zat sisa yang dihasilkan oleh ternak ruminansia ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang yang berguna dalam bidang pertanian untuk menyuburkan tanah dan menghasilkan tanaman organic yang bebas dari zat kimia.
Untuk mempertahankan hidupnya ternak ruminansia bergantung pada pakan yang berkadar serat tinggi. Pencernaan ternak ruminansia dicirikan oleh retensi pregastrik dan fermentasi dengan simbiosis mikroorganisme. Ternak ruminansia mampu menggunakan biomas-biomas yang berserat dan senyawa-senyawa nitrogen sederhana dikarenakan memiliki saluran pencernaan yaitu lambung jamak atau poligastrik yang memiliki empat segmen yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum. Keempat segmen ini memiliki aktifitas yang berbeda-beda.
Ternak ruminansia memerlukan karbohidrat dan protein yang didapat dari bahan yang berupa serat kasar. Dengan kemampuan unik yang dimiliki ternak ruminansia mampu mengubah serat-serat kasar tersebut menjadi zat-zat yang bernilai biologis tinggi oleh karena adanya mikroorganisme (bakteri, protozoa dan fungi) di dalam rumen dan reticulum ruminansia. Karbohidrat mengalami fermentasi membentuk asam lemak volatil (Volatile Fatty Acids) yang merupakan sumber energi utama untuk ruminansia. Sementara protein akan dipecah menjadi asam-asam amino. Ruminansia secara spesifik mampu menyintesis asam-asam amino dari unsur-unsur yang dihasilkan oleh berbagai aktifitas di rumen. Asam-asam amino ini di dalam rumen terurai menjadi amonia (NH3).
Ternak ruminansia memperoleh dua sumber protein utnuk hidupnya yaitu protein mikroba yang terdapat di dalam rumen dan protein yang berasal dari makanan yang lolos  dari degradasi dalam rumen. Kualitas pakan yang rendah menyebabkan kebutuhan protein untuk ruminansia sebagian besar dipasok oleh protein mikroba rumen. Protein mikroba rata-rata memberikan kontribusi sebesar 59 persen dari asam amino yang masuk ke usus halus. Asam amino pakan yang lolos degradasi akan melengkapi kebutuhan asam amino bagi ternak untuk beproduksi secara optimum.
Dengan demikian pasok asam amino bagi ternak ruminansia tergantung pada protein pakan yang lolos degradasi di dalam rumen dan protein mikroba yang terbentuk sebagai hasil fermentasi di dalam rumen. Oleh karena itu praktikum mengukur kadar NH3 dalam cairan rumen ini dilakukan untuk mengetahui kadar protein yang terkandung dalam pakan ternak tersebut.

1.2.       Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini dilakukan yaitu :
1.        Untuk mengetahui kadar amonia (NH3) dalam cairan rumen sapi.
2.        Untuk mengetahui tinggi rendahnya kadar protein dalam pakan sapi yang dikonsumsi

1.3.       Kegunaan Praktikum
Adapun kegunaan dilakukannya praktikum ini yaitu :
1.        Mahasiswa dapat mengetahui kadar amonia (NH3) dalam cairan rumen sapi
2.        Mahasiswa dapat mengatahui tinggi rendahnya kadar protein dalam pakan yang di konsumsi sapi


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

                        Proses pencernaan pakan pada ruminansia meliputi proses mekanik, fermentatif, dan kimiawi. Ternak ruminansia melakukan proses pencernaan mekanik di rongga mulut. Ransum yang masih berbentuk kasar dipecah menjadi partikel-partikel kecil dengan bantuan gigi lewat proses pengunyahan dan pembasahan dengan saliva. Pencernaan fermentatif terjadi dalam rumen atau retikulo rumen berupa perubahan-perubahan senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali berbeda dari molekul asalnya. Pencernaan kimiawi terjadi di abomasum karena pakan mendapat sekresi getah lambung. Pakan yang telah tercerna di abomasums mengalir ke usus halus dan terjadi proses degesti dan absorbs pakan (Sarwono, 2002).
                        Volume rumen sapi dewasa mencapai 200 liter. Di dalam rumen terkandung mikroorganisme, bakteri dan protozoa yang menghancurkan bahan-bahan yang berserat, mencerna bahan-bahan tersebut dan membentuk asam-asam lemak mudah terbang, asam amino dan mensintesis vitamin B. Organisme yang telah mati mengandung bermacam-macam nutrient yang dijadikan sumber nutrisi bagi ternak induk semang. Rumen memiliki kondisi yang anaerobic dengan temperatur 38-42 derajat celcius dan pH 6-7. Nilai pH tersebut akan selalu tetap dipertahankan dengan adanya absorbsi asam lemak dan amonia serta saliva yang masuk (Hanum, 2010)
                        Proses fermentasi protein di dalam rumen menjadi amonia (NH3), gas karbon dioksida (CO2) dan metan (CH4). Protein di dalam rumen akan dirombak oleh enzim protease yang dihasilkan oleh mikroba proteolitik menjadi oligopeptida. Oligopeptida yang terbentuk ini ada yang dimanfaatkanoleh mikroba rumen untuk pertumbuhannya, ada yang langsung masuk ke usu, sebagian lagi ada yang dihidrolisamenjadi asam amino. Sebagian asam amino yang dihasilkan ada yang diserap dalam dinding rumen, ada yang masuk ke dalam usus, ada yang langsung dimanfaatkan oleh mikroba rumen dan ada yang mengalami deaminasi menjadi asam alfa keto yang menghasilkan amonia dan CO2 (Akhbar, 2007)
                         Amonia (NH3) merupakan salah satu sumber nitrogen (N) utama yang digunakan oleh mikroba untuk sintesis protein dalam tubuhnya. Amonia di dalam rumen terbentuk dari hasil degradasi asam amino pakan atau berasal dari nitrogen bukan protein. Amonia digunakan untuk membangun sel mikroba. Sebagian besar mikroba rumen (80%) menggunakan NH3 yang terbentuk dari proses deaminasi asam amino (Hindratiningrum, 2011)
                        Menurut  konsentrasi amonia (NH3) cairan rumen untuk pertumbuhan optimal mikroorganisme pada sapi adalah sebesar 2-5 mg/dl dan proses fermentasi akan berjalan optimal pada konsentrasi 3,8-8,8 mg/dl. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi amonia (NH3) antara lain adalah kelarutam bahan pakan, jumlah protein dalam ransum, sumber nitrogen dalam ransum dan waktu pemberian pakan (Purbowati, 2014)


BAB III
MATERI DAN METODE

3.1.       Waktu dan Tempat
3.1.1.      Waktu Praktikum
Adapun praktikum ini dilaksanakan pada Sabtu, 6 Juni 2015 pukul 10.30 WITA sampai selasai.
3.1.2.      Tempat Praktikum
Adapun tempat diadakannya praktikum ini yaitu di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram.

3.2.       Materi Praktikum
3.2.1.      Alat :
a.    Alat Destilasi
b.    Buret
c.    Erlenmeyer 50 ml
d.   Erlenmeyer 250 ml
e.    Fihler
3.2.2.      Bahan :
a.    Cairan Rumen
b.    NaOH 40%
c.    Asam Borat (H3BO3) 3%
d.   Asam Sulfat (H2SO4) 0,05N

3.3.       Metode Praktikum
Adapun metode praktikum yang digunakan yaitu:
1)        Meletakkan Erlenmeyer 50 ml yang berisi 5 ml asam borat 3 % pada bagian bawah kondensor di alat destilasi.
2)        Pipet cairan rumen sebanyak 5 ml kemudian memasukkannya ke dalam erlenmeyer 250 ml.
3)        Menambahkan 5 ml NaOH 40%, segera menempatkannya ke alat destilasi.
4)        Mendestilasi sampel hingga diperoleh 30-40 ml larutan destilasi.
5)        Melakukan titrasi hasil destilasi sampel dengan H2SO4 0,05N sampai titik akhir.
6)        Mencatat volume destilasi.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.       Hasil Praktikum

Tabel Volume Hasil Titrasi
Kelompok
Titrasi Sampel
1
1,8
2
2,1
3
2,1
4
2,1
5
0.8
6
1.7


Perhitungan Kadar Amonia (NH3)
Diketahui:
ml titrasi sample = 1,8
ml titrasi blanko = 0,1
Bobot atom NH3 = 17,01
N H2SO4 = 0,05
ml sample = 5
Kadar NH3 =
Kadar NH3 =
Kadar NH3 =
Kadar NH3 = 289,17 mg NH3/L



4.2.       Pembahasan Praktikum
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil perhitungan kadan amonia pada cairan rumen yaitu 289,17 mg NH3/L. Cairan rumen yang digunakan memiliki pH 6,82 dan suhunya yaitu 37,5 derajat celcius. Sebelum dilakukannya destilasi uap cairan rumen terlebih dahulu ditetesi asam sulfat pekat. Asam borat yang digunakan berfungsi untuk menangkap Natrium sehingga pada saat dilakukannya destilasi akan berubah warna menjadi kehijauan apabila cairan rumen mengandung NH3.
Amonia adalah suatu prekursor penting bagi pertumbuhan mikroba dari sebagian besar spesies bakteri di rumen. Mereka mengambil dan menggunakan amonia untuk mensitesis asam-asam amino penyusun tubuhnya. Amonia ditetapkan sebagai sumber energy utama bagi kebanyakan bakteri, terutama dari golongan bakteri yang terlibat dalam pencernaan pati dan sellulosa.
Konsentrasi normal NH3 yaitu kisaran 50-250 mg/L. Sementara perhitungan kadar NH3 dari hasil praktikum yaitu 289,17 mg NH3/L. Hal ini menandakan bahwa kadar NH3 dalam cairan rumen yang digunakan sebagai sampel sangat baik karena transformasi mikroba terutama dilakukan melalui ketersediaan amonia, sehingga sangat penting jika amonia selalu tersedia dalam rumen ternak ruminansia.
Protein yang dikonsumsi sebagian akan didegradasi di dalam rumen dan yang lain akan dicerna di dalam usus halus atau dikeluarkan melalui feses. Proporsi protein yang terdegradasi di dalam rumen bervariasi tergantung pada jenis pakan. Apabila pakan ternak mengandung banyak protein maka semakin banyak asam-asam amino yang terbentuk dalam rumen. Asam-asam amino ini kemudian mengalami proses deaminasi dalam rumen sehingga terpecah menjadi amonia (NH3). Jadi semakin banyak kandungan amonia dalam cairan rumen maka hal itu menandakan bahwa pakan yang diberikan pada sapi banyak mengandung protein.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.       Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu:
1.        Kadar NH3 normal pada rumen yaitu 50-250 mg/L. Kadar NH3 yang diperoleh dari hasil praktikum yaitu 289,17 mg NH3/L.
2.        Dari hasil praktikum kadar NH3 yang diperoleh tinggi, melebihi kadar normalnya. Hal itu berarti pakan yang dikonsumsi banyak mengandung protein sehingga cairan rumennya banyak mengandung natrium.

5.2.       Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu sebaiknya dalam melakukan praktikum para praktikan mengikutinya dengan tenang agar tidak terjadi keributan yang dapat menghambat pelaksanaan praktikum ini.
DAFTAR PUSTAKA

Akhbar, N. 2007. Deposisi Protein Pada Sapi Peranakan. Fakultas Peternakan Universitas
                        Diponegoro. Semarang
Hanum, Ridwan. 2010. Mengenal Sapi Peranakan. http://ridwanhanum.wordpress,com/my-
                        skripsi-mengenal-sapi-peranakan.com (diakses pada 16 Juni 2015)
Hindratiningrum, Novita. 2011. Produk Fermentasi Rumen dan Produksi Mikroba Sapi
                        Lokal. Fakultas Peternakan Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman.
                        Semarang
Purbowati, Endang. 2014. Karakteristik Cairan Rumen, Jenis, dan Jumlah Mikroba Dalam
                        Rumen Sapi. Fakultas Peternakan dan Pertania Universitas Diponegoro.
                        Semarang
Sarwono, B. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta
LAMPIRAN GAMBAR

·           Alat-alat Praktikum:

(Gambar 1. Erlenmeyer)

(Gambar 2. Buret)
(Gambar 3. Alat Destilasi)

(Gambar 4. Fihler)

·           Hasil Praktikum:
(Gambar 5. Larutan Hasil Destilasi)
Keterangan:
Warna sampel yang telah di destilasi mengalami perubahan warna yg semulanya berwarna merah berubah menjadi hijau muda yang menandakan bahwa cairan rumen yang digunakan mengandung NH3

(Gambar 6.  Larutan Hasil Titrasi)


Keterangan :
Setelah dilakukannya titrasi pada larutan destilasi warna larutan mengalami perubahan dari warna hijau muda kembali mejadi warna merah seperti semula