BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Dalam dunia peternakan ternak ruminansia
memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Ternak ruminansia memiliki
keistimewaan yaitu mengubah rumput menjadi bahan makan yang bernilai gizi
tinggi berupa susu dan daging. Kulitnya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan sandang. Selain berperan sebagai penyedia daging dan susu ternak
ruminansia jugamenyediakan energi dalam bentuk yang dapat diperbaharui. Zat
sisa yang dihasilkan oleh ternak ruminansia ini juga dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk kandang yang berguna dalam bidang pertanian untuk menyuburkan tanah dan
menghasilkan tanaman organic yang bebas dari zat kimia.
Untuk mempertahankan hidupnya ternak
ruminansia bergantung pada pakan yang berkadar serat tinggi. Pencernaan ternak
ruminansia dicirikan oleh retensi pregastrik dan fermentasi dengan simbiosis
mikroorganisme. Ternak ruminansia mampu menggunakan biomas-biomas yang berserat
dan senyawa-senyawa nitrogen sederhana dikarenakan memiliki saluran pencernaan
yaitu lambung jamak atau poligastrik yang memiliki empat segmen yaitu rumen,
reticulum, omasum, dan abomasum. Keempat segmen ini memiliki aktifitas yang
berbeda-beda.
Ternak ruminansia memerlukan karbohidrat
dan protein yang didapat dari bahan yang berupa serat kasar. Dengan kemampuan
unik yang dimiliki ternak ruminansia mampu mengubah serat-serat kasar tersebut
menjadi zat-zat yang bernilai biologis tinggi oleh karena adanya mikroorganisme
(bakteri, protozoa dan fungi) di dalam rumen dan reticulum ruminansia.
Karbohidrat mengalami fermentasi membentuk asam lemak volatil (Volatile Fatty
Acids) yang merupakan sumber energi utama untuk ruminansia. Sementara protein
akan dipecah menjadi asam-asam amino. Ruminansia secara spesifik mampu
menyintesis asam-asam amino dari unsur-unsur yang dihasilkan oleh berbagai
aktifitas di rumen. Asam-asam amino ini di dalam rumen terurai menjadi amonia
(NH3).
Ternak ruminansia memperoleh dua sumber
protein utnuk hidupnya yaitu protein mikroba yang terdapat di dalam rumen dan
protein yang berasal dari makanan yang lolos
dari degradasi dalam rumen. Kualitas pakan yang rendah menyebabkan
kebutuhan protein untuk ruminansia sebagian besar dipasok oleh protein mikroba
rumen. Protein mikroba rata-rata memberikan kontribusi sebesar 59 persen dari
asam amino yang masuk ke usus halus. Asam amino pakan yang lolos degradasi akan
melengkapi kebutuhan asam amino bagi ternak untuk beproduksi secara optimum.
Dengan demikian pasok asam amino bagi
ternak ruminansia tergantung pada protein pakan yang lolos degradasi di dalam
rumen dan protein mikroba yang terbentuk sebagai hasil fermentasi di dalam
rumen. Oleh karena itu praktikum mengukur kadar NH3 dalam cairan
rumen ini dilakukan untuk mengetahui kadar protein yang terkandung
dalam pakan ternak tersebut.
1.2.
Tujuan
Praktikum
Adapun
tujuan dari praktikum ini dilakukan yaitu :
1.
Untuk mengetahui kadar amonia (NH3)
dalam cairan rumen sapi.
2.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya kadar
protein dalam pakan sapi yang dikonsumsi
1.3.
Kegunaan
Praktikum
Adapun
kegunaan dilakukannya praktikum ini yaitu :
1.
Mahasiswa dapat mengetahui kadar amonia
(NH3) dalam cairan rumen sapi
2.
Mahasiswa dapat mengatahui tinggi
rendahnya kadar protein dalam pakan yang di konsumsi sapi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Proses
pencernaan pakan pada ruminansia meliputi proses mekanik, fermentatif, dan
kimiawi. Ternak ruminansia melakukan proses pencernaan mekanik di rongga mulut.
Ransum yang masih berbentuk kasar dipecah menjadi partikel-partikel kecil
dengan bantuan gigi lewat proses pengunyahan dan pembasahan dengan saliva.
Pencernaan fermentatif terjadi dalam rumen atau retikulo rumen berupa
perubahan-perubahan senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali
berbeda dari molekul asalnya. Pencernaan kimiawi terjadi di abomasum karena
pakan mendapat sekresi getah lambung. Pakan yang telah tercerna di abomasums
mengalir ke usus halus dan terjadi proses degesti dan absorbs pakan (Sarwono,
2002).
Volume rumen sapi dewasa
mencapai 200 liter. Di dalam rumen terkandung mikroorganisme, bakteri dan
protozoa yang menghancurkan bahan-bahan yang berserat, mencerna bahan-bahan
tersebut dan membentuk asam-asam lemak mudah terbang, asam amino dan
mensintesis vitamin B. Organisme yang telah mati mengandung bermacam-macam
nutrient yang dijadikan sumber nutrisi bagi ternak induk semang. Rumen memiliki
kondisi yang anaerobic dengan temperatur 38-42 derajat celcius dan pH 6-7.
Nilai pH tersebut akan selalu tetap dipertahankan dengan adanya absorbsi asam
lemak dan amonia serta saliva yang masuk (Hanum, 2010)
Proses fermentasi
protein di dalam rumen menjadi amonia (NH3), gas karbon dioksida (CO2)
dan metan (CH4). Protein di dalam rumen akan dirombak oleh enzim
protease yang dihasilkan oleh mikroba proteolitik menjadi oligopeptida.
Oligopeptida yang terbentuk ini ada yang dimanfaatkanoleh mikroba rumen untuk
pertumbuhannya, ada yang langsung masuk ke usu, sebagian lagi ada yang
dihidrolisamenjadi asam amino. Sebagian asam amino yang dihasilkan ada yang
diserap dalam dinding rumen, ada yang masuk ke dalam usus, ada yang langsung
dimanfaatkan oleh mikroba rumen dan ada yang mengalami deaminasi menjadi asam
alfa keto yang menghasilkan amonia dan CO2 (Akhbar, 2007)
Amonia (NH3) merupakan salah satu
sumber nitrogen (N) utama yang digunakan oleh mikroba untuk sintesis protein
dalam tubuhnya. Amonia di dalam rumen terbentuk dari hasil degradasi asam amino
pakan atau berasal dari nitrogen bukan protein. Amonia digunakan untuk membangun
sel mikroba. Sebagian besar mikroba rumen (80%) menggunakan NH3 yang
terbentuk dari proses deaminasi asam amino (Hindratiningrum, 2011)
Menurut konsentrasi amonia (NH3) cairan
rumen untuk pertumbuhan optimal mikroorganisme pada sapi adalah sebesar 2-5
mg/dl dan proses fermentasi akan berjalan optimal pada konsentrasi 3,8-8,8
mg/dl. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi amonia (NH3) antara
lain adalah kelarutam bahan pakan, jumlah protein dalam ransum, sumber nitrogen
dalam ransum dan waktu pemberian pakan (Purbowati, 2014)
BAB III
MATERI DAN METODE
3.1.
Waktu
dan Tempat
3.1.1.
Waktu
Praktikum
Adapun praktikum ini
dilaksanakan pada Sabtu, 6 Juni 2015 pukul 10.30 WITA sampai selasai.
3.1.2.
Tempat
Praktikum
Adapun tempat
diadakannya praktikum ini yaitu di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan Universitas Mataram.
3.2.
Materi
Praktikum
3.2.1.
Alat
:
a. Alat
Destilasi
b. Buret
c. Erlenmeyer
50 ml
d. Erlenmeyer
250 ml
e. Fihler
3.2.2.
Bahan
:
a. Cairan
Rumen
b. NaOH
40%
c. Asam
Borat (H3BO3) 3%
d. Asam
Sulfat (H2SO4) 0,05N
3.3.
Metode
Praktikum
Adapun metode praktikum
yang digunakan yaitu:
1)
Meletakkan Erlenmeyer 50 ml yang berisi
5 ml asam borat 3 % pada bagian bawah kondensor di alat destilasi.
2)
Pipet cairan rumen sebanyak 5 ml
kemudian memasukkannya ke dalam erlenmeyer 250 ml.
3)
Menambahkan 5 ml NaOH 40%, segera
menempatkannya ke alat destilasi.
4)
Mendestilasi sampel hingga diperoleh
30-40 ml larutan destilasi.
5)
Melakukan titrasi hasil destilasi sampel
dengan H2SO4 0,05N sampai titik akhir.
6)
Mencatat volume destilasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
Praktikum
Tabel
Volume Hasil Titrasi
|
Kelompok
|
Titrasi
Sampel
|
|
1
|
1,8
|
|
2
|
2,1
|
|
3
|
2,1
|
|
4
|
2,1
|
|
5
|
0.8
|
|
6
|
1.7
|
Perhitungan Kadar
Amonia (NH3)
Diketahui:
ml titrasi sample = 1,8
ml titrasi blanko = 0,1
Bobot atom NH3
= 17,01
N H2SO4
= 0,05
ml sample = 5
Kadar NH3 = 
Kadar NH3 = 
Kadar NH3 = 
Kadar NH3 =
289,17 mg NH3/L
4.2.
Pembahasan
Praktikum
Dari
praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil perhitungan kadan amonia pada
cairan rumen yaitu 289,17 mg NH3/L. Cairan rumen yang digunakan
memiliki pH 6,82 dan suhunya yaitu 37,5 derajat celcius. Sebelum dilakukannya
destilasi uap cairan rumen terlebih dahulu ditetesi asam sulfat pekat. Asam
borat yang digunakan berfungsi untuk menangkap Natrium sehingga pada saat
dilakukannya destilasi akan berubah warna menjadi kehijauan apabila cairan
rumen mengandung NH3.
Amonia
adalah suatu prekursor penting bagi pertumbuhan mikroba dari sebagian besar
spesies bakteri di rumen. Mereka mengambil dan menggunakan amonia untuk
mensitesis asam-asam amino penyusun tubuhnya. Amonia ditetapkan sebagai sumber
energy utama bagi kebanyakan bakteri, terutama dari golongan bakteri yang
terlibat dalam pencernaan pati dan sellulosa.
Konsentrasi
normal NH3 yaitu kisaran 50-250 mg/L. Sementara perhitungan kadar NH3
dari hasil praktikum yaitu 289,17 mg NH3/L. Hal ini menandakan bahwa
kadar NH3 dalam cairan rumen yang digunakan sebagai sampel sangat
baik karena transformasi mikroba terutama dilakukan melalui ketersediaan
amonia, sehingga sangat penting jika amonia selalu tersedia dalam rumen ternak
ruminansia.
Protein
yang dikonsumsi sebagian akan didegradasi di dalam rumen dan yang lain akan
dicerna di dalam usus halus atau dikeluarkan melalui feses. Proporsi protein
yang terdegradasi di dalam rumen bervariasi tergantung pada jenis pakan.
Apabila pakan ternak mengandung banyak protein maka semakin banyak asam-asam
amino yang terbentuk dalam rumen. Asam-asam amino ini kemudian mengalami proses
deaminasi dalam rumen sehingga terpecah menjadi amonia (NH3). Jadi
semakin banyak kandungan amonia dalam cairan rumen maka hal itu menandakan
bahwa pakan yang diberikan pada sapi banyak mengandung protein.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang
dapat diambil dari praktikum ini yaitu:
1.
Kadar NH3 normal pada rumen
yaitu 50-250 mg/L. Kadar NH3 yang diperoleh dari hasil praktikum
yaitu 289,17 mg NH3/L.
2.
Dari hasil praktikum kadar NH3
yang diperoleh tinggi, melebihi kadar normalnya. Hal itu berarti pakan yang
dikonsumsi banyak mengandung protein sehingga cairan rumennya banyak mengandung
natrium.
5.2.
Saran
Adapun
saran yang dapat kami berikan dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu sebaiknya
dalam melakukan praktikum para praktikan mengikutinya dengan tenang agar tidak
terjadi keributan yang dapat menghambat pelaksanaan praktikum ini.
DAFTAR PUSTAKA
Akhbar, N. 2007. Deposisi Protein Pada Sapi
Peranakan. Fakultas Peternakan Universitas
Diponegoro.
Semarang
Hanum, Ridwan. 2010. Mengenal Sapi Peranakan.
http://ridwanhanum.wordpress,com/my-
skripsi-mengenal-sapi-peranakan.com
(diakses pada 16 Juni 2015)
Hindratiningrum, Novita. 2011. Produk Fermentasi
Rumen dan Produksi Mikroba Sapi
Lokal.
Fakultas Peternakan Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman.
Semarang
Purbowati, Endang. 2014. Karakteristik Cairan
Rumen, Jenis, dan Jumlah Mikroba Dalam
Rumen
Sapi. Fakultas Peternakan dan Pertania Universitas Diponegoro.
Semarang
Sarwono, B. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara
Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta
LAMPIRAN GAMBAR
·
Alat-alat Praktikum:
![]()
(Gambar
1. Erlenmeyer)
|
![]()
(Gambar
2. Buret)
|
![]() ![]()
(Gambar
3. Alat Destilasi)
![]()
(Gambar
4. Fihler)
|
·
Hasil Praktikum:
![]()
(Gambar
5. Larutan Hasil Destilasi)
|
Keterangan:
Warna
sampel yang telah di destilasi mengalami perubahan warna yg semulanya berwarna
merah berubah menjadi hijau muda yang menandakan bahwa cairan rumen yang
digunakan mengandung NH3
|
![]()
(Gambar
6. Larutan Hasil Titrasi)
|
Keterangan
:
Setelah
dilakukannya titrasi pada larutan destilasi warna larutan mengalami perubahan
dari warna hijau muda kembali mejadi warna merah seperti semula
|







Tidak ada komentar:
Posting Komentar